CERPEN
SIRNA
Karya
: Ahmad Hernanda
Angin yang berderu-deru
mengenai daun-daun di pepohonan. Embun yang silih berganti. Sang surya mulai
menampakan diri kepada semesta. Dan ayam jago yang mulai bersahut-sahutan. Aku
bangun dari tempat tidurku, dan bersiap-siap pergi kesekolah. Karena hari ini
adalah awal sekolah.
“ Bu, Naya berangkat
dulu.” Pamitku sambil mencium tangan ibuku.
“ Hati-hati di jalan ya.”
Pinta ibuku.
“Ga ada yang
ketinggalan nih?” Tanya bapakku.
“Ngak ada.” Jawabku.
Sesampai
disekolah, ada banyak anak baru yang mengenakan seragam yang berbeda-beda. Mereka sedang berbaris mengantri pebagian
kelas. Aku sedikit takut dan bertanya-tanya dimana kelasku? Siapa temanku?
Bagaimana teman-temanku nanti. Itu semua terbayarkan dengan kelas yang aku
tempati. Teman sekelasku sangat baik denganku. Hari- hariku kulalui bersama
dengan teman sekelasku.
Hari
demi hari berganti ulangan kenaikan kelas pun akan segera dilaksanakan. Ulangan
kenaikan kelas pun berlangsung dengan lancar. Pembagian rapot yang mengundang
orang tua wali siswa pun sudah terlaksana. Takut, gelisah yang kurasa karena
khawatir dengan nilaiku nanti. Alhamdulillah namaku terdapat dalam urutan
peringkat sepuluh besar.
Kata
temanku , kamu menyukaiku. Aku pun penasaran denganmu. Kamu pun mulai memperhatikanku. Kamu mulai mencari semua tentangku melalui teman-temanku.
Dilapangan tengah aku bertemu denganmu.
“Wih hebat.” Kau
memujiku.
“Terima kasih, nilaimu
bagaimana bang?” Tanyakku kembali
“Lumayan bagus tapi
masih bagusan kamu.” Jawabmu.
Dan
akhirnya aku menjadi pacarmu. Hari-hari kita lalui bersama, namun sayang
pelepasan kelas dua belas sudah ditetapkan. Kamu akan meninggalkan sekolah ini
sedangkan aku harus belajar dikelas 11. Kita masih berhubungan tapi dengan
jarak yang jauh.
Selama ini hubungan
kita baik-baik saja. Namun ketika kamu meninggalkan sekolah ini , kamu mencari
kerja untukmu. Lalu seseorang datang di hidupmu hubungan kita pun hancur. Kamu
meminta meyudahinya. Demi kebahagianmu aku pun mengiyakannya.
Aku terdiam membisu setelah kamu
menyudahi hubungan ini. Pagar sekolah yang menjadi saksi bisu. Saat itu aku
berada di titik yang sehancur-hancurnya. Kaki-kaki ini tak kuat melangakah menuju
rumah , air mata ini tak kuasa kutahan. Sedangkan kamu tak memikirkan keadaanku,
angin pun ikut tertawa atas kesedihanku.
“ Nay, kamu kenapa?
Tanya cemas ibuku. Aku hanya dia menuju kamar.
Dikamar
jam dinding seakan-akan tertawa mengejekku. Aku pun akhirnya berniat untuk
tegar menjalani takdir ini. Aku harus belajar mengikhlaskan, dan aku harus
belajar dengan giat karena bulan depan akan Ujian Nasional. Aku lulus sekolah
dengan nilai yang cukup bagus. Aku diterima di Universitas Negeri Lampung
dengan jurusan Sarjana Hukum.
Setelah
aku menjadi mahasiswa baru, kamu datang kembali kepadaku. kamu meminta maaf
atas kesalahan-kesalahanmu. Dengan bodohnya aku pun memaafkanmu. Kamu mengajakku berkeliling kota. Hatiku sangat
bahagia layaknya hatiku yang patah kini pulih kembali. Kamu mengendarai motor
dengan sangat hati-hati, namun entah kenapa kita terjatuh.
“Ada yang sakit nggak?
Pulang kerumah abang dulu ya dek, nanti baru abang anterin kamu pulang.” Tawaranmu
yang menghawatirkan keadaanku.
“Iya terserah abang.” Jawabku
atas tawaranmu.
“Eh pacar baru to mas?”
Tanya ibunmu ketika kita sampai dirumahmu.
“Iya bu. Tadi kami
jatuh dari motor.” Ujarnmu.
“ Lha kok bisa?Ada yang
sakit ngga ndok?” Tanya ibumu cemas.
“Nggak ada bu.” Jawabku.
Setelah
lama berbincang-bincang dengan keluargamu. Aku pun kamu antarkan pulang
kerumahku. Di perjalannya aku tertidur dibahumu, namun kamu membangunkanku
karena kekhawatirmu nantinya akan jatuh lagi.
“Makasih ya udah
dianterin pulang.” Seruku.
“Iya. Jaga kesehatan
ya. Kalau ada yang sakit bilang nggak usah sungkan, jatuh tadi karna aku.” Ujarmu.
Hingga saat itu kamu
sering mengajakku kerumahmu. Entah mengobrol hal-hal yang tidak jelas atau
makan bersama dengan bapakmu, ibumu dan bahkan dengan kakak perempuanmu itu.Hubunganku
dengan kamu berjalan selama satu tahun, entah mengapa kamu sedikit berubah.
Tekadang aku bertanya-tanya apakah kamu masih berhubungan dengan wanita yang
sama, yang pernah merusak hubungan kita dulu? Ternyata dugaanku benar, namun aku
belum berani bertanya kepadamu tentang masalah itu. Hari ini hari ulang
tahunmu, seperti tahun lalu aku akan merayakan ulang tahumu dirumahmu. Aku
pergi kerumahmu dengan membawa bingisan kecil dan kue tar, untuk merayakan
ulang tahunmu dirumahmu.
“Ya Allah ndok,
hujan-hujan kok nekat kesini.” Cetus ibumu.
“ Nggak papa kok bu.
Hujannya cuma mau samapi kesini kog bu.” Jawabku.
“Mau ngapain kesini. Hujan
dibelain kesini.” Tanya ibumu.
“Mau ngerayain ulang
tahun abang bu. Abang ada?” Seruku.
“Ada, tunggu sebentar
ya.” Jawab ibumu sambil berjalan menuju kamar tidurmu.
“Selamat ulang tahun,
semoga panjang umur, sehat selalu. Tiup dulu lilinnya bang.” harapanku untukmu.
“Makasih ya udah
ngerayain ultahku.” Ujarmu.
“Iya.” Jawabku.
Hari mulai gelap kamu mengantarkanku
pulang. Dijalan aku mempunyai kesempatan untuk bertanya kepadamu. Karena aku
sudah tidak tahan memendamnya sendiri.
“Kamu anggep aku apa
bang? Jika kamu masih berhubungan dengan wanita itu?” Tanyaku dengan segenap
keberanian.
“Maksud kamu apa?”
Tanyamu kembali dan menegerem motormu.
“Aku ini pacar kamu
atau yang lainya? Atau mungkin aku pelarianmu, atas kesedihanmu ditinggal
wanita itu?” Tanyaku dengan menenteskan air mata.
“Cukup. Ayo kita pulang.”
Bentakmu dengan menjalankan motormu kembali.
Sesampainya dirumah aku
tak berkata sedikitpun begitupun denganmu. Kamu pergi setelah aku turun dari
motormu. Dan kau sekali lagi meyudahi hubungan kita. Masuk kerumah dengan
mengenang momen-momen indah kita yang telah kita lalui bersama, tak kusadari air
mata ku bercucuran.
Hanya karena saat itu
aku pun harus bangit dari keterpurukan ini. Aku harus fokus dengan bidang studi
yang aku ambil. Tak terasa kuliahku tersisa dua semester. Minggu depan aku akan
PPL di daerah Metro.
Setelah kamu putus lagi
dengan wanita itu. Kamu datang kepadaku dengan berjanji tidak akan
meninggalakanku lagi. Aku pun percaya dengan ucapanmu itu. Hubungan kita mulai
dari awal lagi. Ibumu yang sangat baik kepadaku. Setiap
aku kerumahmu. ibumu yang selalu menyuruhku untuk makan. Dan ibumu selalu
menyempatkan nyamperin aku sebentar sambil ngobrol. Kakakmu juga asik. Kakakmu pernah
bilang ke aku bawha ibu dan bapakmu nggak ada masalah sama hubungan kita yang
penting aku harus menyelesaikan kuliahku ini buat membaggakan bapak dan ibuku.
Kamu dengan senang hati
antar jemput aku saat aku merantau PPL. Perjalanan yang kita tempuh hampir 5
jam. Naik motor berdua. Saat hujan dan kamu nggak bawa jas hujan, kita berteduh
dipinggir jalan. Kita terkena cipratan genangan air karena ada mobil yang
lewat, dan kamu pun marah-marah karena baju kita basah kuyup dan kamu ngajakku
ke masjid. Hari pun mulai petang, hujan rintik-rintik yang menemaniku dan kamu.
Jam menujukkan pukul 9
malam kamu mengajakku untuk mencari makan, setelah makan kamu mengajakku untuk
pulang. Sempat nyasar karena sudah sangat malam.
“I love you dek.” Ujarmu
disepanjang jalan yang dingin.
“I love you to bang.” Dengan
memelukmu dari belakang.
Kamu bilang besok jika
kusudah menyelesaikan kuliahku, kamu akan mengajakku tour ke Jogja untuk
menemanimu ke acara anniverssary bikers nusantara. Tapi setelah aku
meyelesaikan PPLku kamu meninggalkan aku. Hari ini langit mengabu seolah
mengerti perasaanku. Iya aku hancur sehancur-hancunya saat ini. Kenyataan pahit
aku dapati lagi. Kamu pergi, pergi untuk selamanya. Begitu banyak kenangan yang
kita ukir bersama. Banyak kenangan yang nggak bisa kuceritakan karena terlalu
banyak kenanganku denganmu. Kamu berjanji bahwa kita akan terus bersama saat
menikah hingga maut memisahkan kita. Namun sekarang kamu mengingkari
janji-janjimu yang telah kamu buat sendiri. Yasudah lah jika ini sudah menjadi
takdir kita, mau bagaimana lagi? Menentang? Hah itu mustahil. Kamu tak
sepenuhnya salah karena manusia hanya bisa berencana namun Tuhan yang
menentukan.
“Tuhan, aku mohon
jangan hadirkan dia untuku lagi.”Harapku.
Komentar
Posting Komentar